Sidang Artistik: Membaca Krisis & Kritisisme, Sebagai Bingkai Kuratorial, Dalam Pameran Arsip.

Jakarta-tevri-tv.com

Komisi Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta mempersembahkan Pameran Arsip Dewan Kesenian Jakarta dengan tema “Sidang Artistik: Membaca Krisis dan Kritisisme melalui Arsip Dewan Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki, 1968–2000-an.”

banner 325x300

Pameran ini akan dimulai pada hari Selasa, 5 Agustus 2025 di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki, yang dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Pemprov DKI, Mochamad Miftahulloh Tamary.
” Selamat atas dibukanya Pameran Kearsipan , saya mewakili Gubernur DKI dari Pemprov DKI Jakarta, pak Pramono menitipkan pesan mengucapkan selamat atas dibukanya Pameran Arsip yang baru pertama kali diadakan di Indonesia dibuka di Taman Ismail Marzuki dikota Jakarta, agar tetap menjaga Arsip agar tetap bisa dilihat masyakarat”, ucapnya.

menurut M Miftahulloh Tamary, beliau baru tiga bulan menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, mari kita berkolaborasi menjadikan Wahana budaya dan seniman untuk meningkatkan dan menumbuhkan menjadi satu ekosistem seniman dan Pemprov DKI Jakarta, Kebangkitan bisa dinikmati Seniman dan masyarakat yang menyangkut kebudayaan, mari kita lestarikan dan bergandengan tangan meningkatkan sistem budaya “, ujarnya.

Judul pameran ini, Sidang Artistik: Membaca Krisis dan Kritisisme melalui Arsip Dewan Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki, 1968–2000-an, menggunakan istilah sidang artistik sebagai bingkai kuratorial. Istilah ini dipinjam dari arsip Surat Keputusan Dewan Pekerja Harian No. 01/SK/DPH/69, yang merujuk pada fungsi dewan artistik sebagai pengarah nilai, perencana program, sekaligus pengawas artistik di Pusat Kesenian Jakarta. Namun, dalam konteks pameran ini, sidang dibayangkan bukan sekadar praktik pengarahan dan pengawasan, melainkan dimaknai sebagai arena antaragen: ruang bagi perbedaan posisi, perdebatan artistik, serta tempat melakukan praktik penyidangan, yakni membuka dan membongkar dokumen masa lalu agar dapat dikritisi.

Pameran ini menempatkan diri kita sebagai bagian dari peserta sidang yang mempertanyakan bagaimana hubungan antara kota, kekuasaan, warga, dan kesenian saling menggerakkan maupun digerakkan.

Pameran ini mementaskan empat babak krisis yang mengungkap relasi kuasa antara negara, institusi seni, dan masyarakat kota melalui medan Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), sebagai ruang di mana seni diproduksi dan dinegosiasikan dalam kerangka historis Orde Baru hingga pasca-Orde Baru. Krisis I: Pengantin Baru menunjukkan bagaimana depolitisasi seni dilembagakan oleh negara melalui skema patron-klien yang harmonis antara seniman dan aparatur kekuasaan, di bawah bayang-bayang Dwi Fungsi ABRI, dengan DKJ dan TIM sebagai alat konsolidasi ideologis. Krisis II: De-Sadikinisasi menandai fase ketika otonomi artistik dilucuti pasca-lengser Ali Sadikin, seiring dengan penyusutan fungsi DKJ menjadi sekadar pelaksana teknis. Krisis III: Semangat Pembaruan menghadirkan perlawanan simbolik melalui lahirnya gerakan avant-garde, di mana seniman eksperimental merebut kembali agensi estetik dan politis dengan membongkar narasi tradisi dan kekuasaan atas bentuk serta gaya seni. Namun, pada Krisis IV: Tak Ada Pemberontakan karena Drama, negara mengencangkan kontrol melalui aparatus polisionil: seniman ditangkap, karya disensor, ruang dibungkam, untuk meredam gejolak sosial.

Pameran ini mencoba mempertanyakan bagaimana nilai artistik diproduksi dan dinegosiasikan: apa yang dianggap bernilai secara artistik, dan apa yang tidak. Keputusan-keputusan kuratorial di Dewan Kesenian Jakarta, serta apa yang dipentaskan dan dipamerkan di Taman Ismail Marzuki, tidak pernah sepenuhnya terlepas dari relasi kuasa, arah politik atau ideologi, dan krisis sosial.
Acara pembukaaan dan Lecture Performance bertajuk Kumidi Arsip oleh Malhamang Zamzam dan Ugeng T.Moetidjo. Selain itu, untuk mengisi rangkaian pameran yang berlangsung selama sembilan hari, juga akan dilangsungkan dua sesi Diskusi Publik.

Diskusi Publik yang pertama akan berlangsung pada hari Rabu, 6 Agustus 2025 di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki pada pukul 15.00 – 17.00 wib dengan tema “Infrastruktur dan Kuasa: Membaca Dewan Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki sebagai Situs Krisis dengan kelima narasumber, yakni: Yustiansyah Lesmana (Ketua Komisi Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta), Riyadhus Shalihin (Kurator Pameran Arsip “Sidang Artistik), Ganda Swarna (Periset dan Asisten Kurator Pameran Arsip “Sidang Artistik), JJ Rizal (Sejarawan, Pendiri Komunitas Bambu), dan Dolorosa Sinaga (Pematung, Anggota Komite Seni Rupa DKJ 1998); sesi ini akan dipandu oleh Selira Dian (Penulis dan Peneliti).

Sedangkan Diskusi yang kedua akan berlangsung pada hari Kamis, 7 Agustus 2025 di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki pada pukul 15.00 – 17.00 wib dengan tema “Arsip, Kuasa, dan Kerja Keperawatan” dengan mengundang para narasumber sebagai berikut: Nur Fadilah Yusuf (Peneliti Sejarah), Umi Lestari (Penulis, Peneliti, dan LIARSIP-Studi Arsip Film, Restorasi, dan Sejarah Perempuan dalam Sinema), Ari Imansyah (Kasubkel Pengelolaan Arsip Statis, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta), dan Astrid Reza (Sejarawan – Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan Indonesia); sesi ini akan dipandu oleh Anggraeni Widhiasih (Peneliti dan Pengkarya).

Pameran Arsip Dewan Kesenian Jakarta akan berlangsung pada hari Selasa hingga Rabu, tanggal 5 – 13 Agustus 2025 di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki, pukul 09.00 – 21.00 WIB. Mari berkunjung dan sampai bertemu di TIM.( ine)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *