BRIN  

BRIN Gelar Latihan Kedaruratan Bahaya Radiasi Nuklir di Bandung, Uji Kesiapsiagaan Lintas Instansi

Bandung – Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksdya TNI (Purn) Prof. Amarulla Octavian, memimpin langsung Latihan Kedaruratan Bahaya Radiasi Nuklir yang diselenggarakan di Kawasan Sains Tamansari Bandung BRIN, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan ini bertujuan menguji kesiapsiagaan personel, efektivitas prosedur tanggap darurat, serta memperkuat koordinasi lintas instansi dalam menghadapi potensi kedaruratan radiologi dan nuklir.

banner 325x300

Latihan dilaksanakan melalui tiga skenario (trouble spot) yang menggambarkan berbagai kondisi kedaruratan secara bertahap. Setiap skenario dirancang untuk menguji kemampuan petugas mulai dari deteksi awal, pelaporan, pengamanan lokasi, evakuasi korban, penanganan paparan radiasi, dekontaminasi, hingga koordinasi antarinstansi sesuai prosedur yang berlaku.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), unsur TNI dan Polri, Dinas Pemadam Kebakaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung, Rumah Sakit Hasan Sadikin, serta jajaran BRIN. Hadir pula Tenaga Ahli Utama Kepala BRIN, Direktur Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Kawasan Sains dan Teknologi Chichi Shintia Laksani, Direktur Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran Dr. R. Mohammad Subekti, serta Kepala Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan Yudho Baskoro.

Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan setiap unsur memahami peran, fungsi, dan mekanisme koordinasi apabila terjadi keadaan darurat yang sesungguhnya.

Dalam arahannya, Prof. Amarulla Octavian menegaskan bahwa latihan kedaruratan bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, melainkan investasi strategis untuk membangun budaya keselamatan (safety culture) di lingkungan BRIN.

“Kesiapan sumber daya manusia, kecepatan pengambilan keputusan, ketepatan komunikasi, serta koordinasi antarlembaga menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko apabila terjadi insiden radiasi. Keberhasilan penanganan kedaruratan sangat ditentukan oleh kesiapan seluruh unsur sejak tahap deteksi, pelaporan, respons awal, hingga pemulihan. Karena itu latihan harus dilakukan secara berkala dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.

Selama pelaksanaan, seluruh tahapan latihan berlangsung sesuai prosedur, dimulai dari identifikasi kejadian, aktivasi organisasi tanggap darurat, pelaporan berjenjang, isolasi area, evakuasi korban, pengukuran tingkat radiasi, dekontaminasi, penanganan medis, hingga deklarasi kondisi aman. Rangkaian tersebut mencerminkan prinsip penanganan kedaruratan nuklir yang mengedepankan respons cepat, koordinasi terpadu, serta keselamatan personel dan masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan evaluasi bersama seluruh peserta untuk mengidentifikasi peluang penyempurnaan prosedur, meningkatkan interoperabilitas antarinstansi, serta memperkuat kapasitas nasional dalam menghadapi potensi kedaruratan radiasi dan nuklir.

Secara keseluruhan, latihan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen BRIN bersama seluruh mitra dalam menjaga standar keselamatan nuklir yang tinggi guna melindungi masyarakat, lingkungan, serta mendukung keberlangsungan kegiatan riset nasional.

(ard)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *