Manado, TEVRI TV – Universitas Sam Ratulangi melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) bermitra dengan Federasi Mountaneering Indonesia (FMI) Sulawesi Utara dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) melakukan penguatan kapasitas bagi masyarakat dalam bentuk pelatihan kelompok masyarakat sempadan sungai kota Manado yang dinamakan ”Sekolah Sungai Lestari” (21/08), di kelurahan Kima Atas, kecamatan Mapanget Kota Manado.


Dengan narasumber Marlon Kamagi (Aktivis Pengolah Sampah), dan Steven Sumolang (Peneliti BRIN). Kegiatan yang diikuti kelompok masyarakat di sekitar sempadan sungai Kima Atas ini bertujuan untuk memahami lingkungan sungai dan meningkatkan kesadaran dan partisipasinya untuk melakukan upaya menjaga dan melestarikan sungai.


Kelurahan Kima Atas Kota Manado, sebagai lokasi program kemitraan ini yang masuk dalam areal salah satu daerah aliran sungai di Manado. Diharapkan masyarakat daerah aliran sungai dapat memahami dampak negatif dari pencemaran air dan kerusakan ekosistem sungai.

Steven Sumolang menjelaskan bahwa sebagaimana hasil riset di beberapa DAS kota Manado selalu tersuspensi tanah liat, tinja, limbah rumah tangga, minyak dari mesin, keseimbangannya terganggu oleh zatzat lain, sehingga mengakibatkan terjadinya penggumpalan yang kemudian diikuti dengan pengendapan, terutama bisa menghambat resapan air dalam tanah dengan cara menutupi pori-pori, zat-zat yang berdampak buruk pada lingkungan. Banyak warga yang membuang sampah ke sungai, saat hujan lebat banyak kali menyebabkan banjir bandang.
“LImbah plastik penyebab pencemaran sungai yang berbahaya karna juga akan bermuara ke laut di teluk Manado yang memiliki taman nasional Bunaken. Plastik menutupi dan merusak karang sebagai habitat makhluk laut, mikro plastiknya dimakan Ikan, nantinya ikan manusia konsumsi. Ini menjadi berbahaya yang menimbulkan banyak penyakit kepada manusia”. Kata Marlon Kamagi.
Kamagi mengusulkan agar pengolahan sampah dimulai dari rumah tangga, pisahkan bahan-bahan organik dan non organik. Seperti sisa-sisa makanan dibuat pupuk alami. Kemudian yang berbahan plastik dan lainnya bisa diolah lagi menjadi benda-benda yang bisa digunakan untuk banyak hal, atau diolah oleh Bank Sampah yang dibuat sendiri oleh kelompok masyarakat setempat.
Prof. Stefanus Sampe, Neni Kumayas, Sarah Sambiran sebagai pelaksana program ini, mengatakan bahawa melalui edukasi dan pelatihan, mereka belajar mengelola sampah dan limbah secara bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya kerusakan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait lainnya sangat penting untuk menjaga Sungai Manado agar tetap menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan. ( red )













