TEVRI TV Minut– Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema ” Peningkatan Kapasitas Kesadaran Masyarakat dalam Konservasi Sumber Daya Pesisir Berbasis Masyarakat di Desa Minaesa Talawaan Bajo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara” di Desa Talawaan Bajo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen LPPM Unsrat dalam mendukung pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas dan partisipasi aktif masyarakat.
Kegiatan dilaksanakan oleh tim pengabdian yang terdiri atas Stefanus Sampe, Neni Kumayas, dan Daysi Posumah. Program ini dirancang untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir sebagai sumber penghidupan sekaligus penyangga kehidupan masyarakat pesisir.
Desa Talawaan Bajo merupakan salah satu desa pesisir yang sebagian besar penduduknya menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan dan pemanfaatan sumber daya laut. Di tengah meningkatnya berbagai tekanan terhadap ekosistem pesisir, seperti pencemaran lingkungan, degradasi kawasan pesisir, dan praktik pemanfaatan sumber daya yang belum sepenuhnya berkelanjutan, diperlukan upaya bersama untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Pada kegiatan ini, Steven Sumolang, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hadir sebagai narasumber. Berbeda dengan metode ceramah satu arah, penyampaian materi dilakukan menggunakan pendekatan fasilitator yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses belajar. Melalui metode belajar bersama (co-learning) dan diskusi partisipatif, masyarakat diajak mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi di wilayah pesisir, berbagi pengalaman, sekaligus merumuskan solusi yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi lokal.
Dalam sesi diskusi, masyarakat secara aktif menyampaikan pandangan mengenai perubahan kondisi lingkungan pesisir, tantangan yang dihadapi para nelayan, serta berbagai bentuk kearifan lokal yang masih dapat dikembangkan sebagai bagian dari upaya konservasi sumber daya pesisir. Pendekatan ini menciptakan ruang dialog yang terbuka sehingga proses pembelajaran berlangsung dua arah dan menghasilkan pemahaman yang lebih kontekstual.
Steven Sumolang yang juga pemerhati lingkungan ketua bidang III Forum Komunikasi Pecinta Alam (FKPA) Sulut, Ketua Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) Sulut, menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau program pembangunan, tetapi sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama dalam menjaga lingkungan pesisir.
“Konservasi akan berjalan efektif ketika masyarakat memiliki kesadaran, merasa memiliki sumber daya yang ada, dan terlibat secara aktif dalam setiap proses pengelolaannya. Karena itu, pendekatan belajar bersama menjadi penting agar solusi yang dihasilkan benar-benar lahir dari kebutuhan dan pengalaman masyarakat sendiri,” jelasnya.
Selain pemaparan materi dan diskusi, kegiatan juga mendorong penyusunan gagasan aksi bersama untuk menjaga kebersihan kawasan pesisir, melestarikan ekosistem mangrove, serta memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.
Antusiasme masyarakat Desa Talawaan Bajo terlihat dari tingginya partisipasi selama kegiatan berlangsung. Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa keberlanjutan sumber daya pesisir merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian.
Melalui kegiatan pengabdian ini, LPPM Universitas Sam Ratulangi berharap terbentuk masyarakat yang semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan pesisir serta mampu mengembangkan model pengelolaan sumber daya pesisir berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, BRIN, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kawasan pesisir yang lestari, produktif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Minahasa Utara.
( TEVRI)













