Banggai Laut, Tevri-Tv.com — Kamis, (4/12/2025). Hiruk-pikuk pelaksanaan Festival Tumbe tahun ini dinilai belum mampu menghadirkan aura psikologis budaya, sosial, dan nilai adat sebagaimana mestinya. Meski telah masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN), festival tersebut dianggap hanya menonjolkan kemasan seremonial tanpa memperlihatkan ruh kebudayaan yang seharusnya menjadi inti perayaan.
Sebagai festival yang berciri khas adat, pelaksanaan Tumbe diharapkan membawa pesan tentang peradaban, kecerdasan, serta keluhuran budaya lahir batin masyarakat yang memiliki histori kuat. Terlebih, keberadaan perangkat adat dan situs sejarah yang masih aktif merupakan simbol eksistensi adat di wilayah tersebut. Kompleksitas kultur dan nilai-nilai luhur yang dijaga turun-temurun mestinya menjadi pondasi utama penyelenggaraan.
Namun, penggunaan anggaran APBD yang tergolong besar seolah tak memperlihatkan realitas kecerahan yang kompleks, setidaknya sejalan dengan kondisi lapangan. Situs sejarah yang menjadi ikon peradaban terlihat kurang terawat, bahkan tampak seperti tempat yang tidak bertuan. Hal ini memunculkan pertanyaan publik terkait arah dan prioritas pelaksanaan festival.
Kondisi tersebut menimbulkan ketidakrasionalan di tengah tuntutan efisiensi dan pergerakan ekonomi masyarakat. Asumsi pemborosan pun mencuat, terlebih jika manfaat jangka panjang bagi ekonomi kerakyatan tidak terlihat. Tanpa penguatan nilai budaya dan pengelolaan situs sejarah yang memadai, festival ini dikhawatirkan hanya menjadi pagelaran akbar dengan tampilan seremonial belaka. (FTT)













