“Mato Ada, Tetapi Ekonominya di Mana?”
BANGGAI LAUT, TEVRI-TV.com – (03/10/2026). Mato memiliki ruang besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi bahari Kabupaten Banggai Laut. Namun, tantangan sesungguhnya bukan lagi sekadar membangun atau mempertahankan keberadaan kawasan pelabuhan, melainkan memastikan Pelabuhan Perikanan Mato benar-benar berfungsi sebagai mesin penggerak ekonomi masyarakat nelayan.
Sejak mulai beroperasi pada 2020, publik patut memperoleh gambaran yang jelas: sejauh mana Pelabuhan Perikanan Mato telah memberikan dampak nyata terhadap aktivitas nelayan, rantai distribusi hasil tangkapan, pertumbuhan usaha perikanan, dan perputaran ekonomi masyarakat di Banggai Laut?
Pertanyaan itu penting karena keberadaan pelabuhan perikanan semestinya tidak berhenti pada tersedianya lahan, bangunan, dermaga, atau fasilitas pendukung lainnya.
Lebih jauh dari itu, pelabuhan harus menjadi bagian dari sebuah ekosistem ekonomi perikanan yang menghubungkan nelayan dengan aktivitas pendaratan hasil tangkapan, penyimpanan, distribusi, perdagangan, pengolahan, logistik, perbekalan melaut, hingga tumbuhnya usaha-usaha turunan di sekitar kawasan.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan Mato tidak cukup dilihat dari keberadaan fisiknya. Yang jauh lebih penting adalah fungsi, tingkat pemanfaatan, kualitas pelayanan, serta dampak ekonominya terhadap masyarakat.
Apabila fasilitas telah tersedia tetapi aktivitas pelayanan, pemanfaatan kawasan, dan perputaran ekonomi belum berkembang secara maksimal, maka terdapat ruang bagi publik untuk mempertanyakan apakah fungsi strategis pelabuhan telah berjalan sesuai potensi yang dimilikinya.
Mato dan Masa Depan Ekonomi Nelayan
Banggai Laut merupakan daerah kepulauan yang kehidupan ekonominya memiliki keterkaitan erat dengan sumber daya kelautan dan perikanan. Karena itu, penguatan Pelabuhan Perikanan Mato bukan semata persoalan pembangunan infrastruktur.
Persoalannya lebih besar: bagaimana pelabuhan tersebut dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan lokal.
Pelabuhan yang berfungsi optimal dapat menjadi titik temu berbagai aktivitas ekonomi. Hasil tangkapan nelayan dapat masuk ke dalam rantai perdagangan yang lebih terorganisasi, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya usaha transportasi, pengolahan hasil laut, penyediaan es dan kebutuhan melaut, perdagangan, jasa, serta kegiatan ekonomi masyarakat lainnya.
Rantai ekonomi tersebut pada akhirnya dapat menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas.
Karena itu, Mato memiliki posisi strategis bukan hanya bagi sektor perikanan, tetapi juga bagi arah pembangunan ekonomi bahari Banggai Laut.
Namun, di sinilah persoalan mendasarnya: apakah potensi tersebut sudah benar-benar diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang dirasakan masyarakat?
Jika kawasan pelabuhan hanya tampak secara fisik, sementara fungsi pelayanan dan aktivitas ekonominya belum berkembang sesuai kapasitas yang diharapkan, maka terdapat kesenjangan antara potensi kawasan dengan manfaat yang diterima masyarakat.
Pemerintah Dituntut Memperjelas Arah Pengembangan
Kondisi tersebut membutuhkan kejelasan arah pengembangan dari pemerintah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama pemerintah daerah perlu memperjelas komitmen terhadap peningkatan sarana, prasarana, fasilitas, kapasitas, serta kualitas pelayanan Pelabuhan Perikanan Mato.
Yang diperlukan bukan hanya pembangunan fisik.
Lebih penting adalah memastikan fasilitas yang tersedia benar-benar berfungsi, dimanfaatkan, dan mampu menjawab kebutuhan nelayan serta pelaku usaha perikanan.
Publik juga berhak mendapatkan informasi mengenai kondisi pelayanan Mato saat ini, tingkat pemanfaatan fasilitas, kapasitas pelayanan, kendala operasional, serta rencana pengembangan pelabuhan ke depan.
Sebab, apabila Mato ditempatkan sebagai salah satu simpul strategis ekonomi perikanan Banggai Laut, maka keberadaannya harus didukung dengan political will, perencanaan yang terukur, investasi infrastruktur, tata kelola pelayanan, dan koordinasi lintas pemerintahan.
Mato tidak semestinya hanya menjadi kawasan yang terlihat.
Mato harus memiliki fungsi ekonomi yang terasa.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Pelabuhan Perikanan Mato bukan semata-mata apakah pelabuhan tersebut berdiri dan beroperasi, tetapi seberapa jauh keberadaannya mampu menggerakkan aktivitas nelayan, memperkuat usaha perikanan, memperluas rantai nilai hasil laut, membuka perputaran ekonomi masyarakat, dan memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan Banggai Laut.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah Mato memiliki potensi, tetapi bagaimana potensi tersebut diwujudkan menjadi kekuatan ekonomi bahari yang benar-benar bekerja.
(FTT)













