Televisi Rakyat Indonesia TEVRI TV Minut – Cocktail Mixology Berbahan dasar Saguer merupakan Langkah Inovatif Menuju Ekonomi Hijau bagi UMKM Rumah Makan dan Minum di Desa Wisata Darunu, Kec.amatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.

Satu lagi program Hebat yang memajukan sumberdaya manusia dalam mendukung ASTA CITA Dibidang Peningkatan Kapasitas masyarakat didesa Darunu. PKM Politeknik Negeri Manado Melalui Ketua Tim Dr.Agustinus Walansendow. SE,MM,MSi melahirkan inovasi baru di sektor kuliner lewat program PKM.

Diharapkan Walansendow para pelaku UMKM rumah makan dan minum mendapatkan pelatihan Cocktail Mixology berbasis saguer, minuman tradisional khas Sulawesi Utara.

” Inovasi ini tidak hanya memperkaya khazanah kuliner lokal, tetapi juga menghadirkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Saguer yang selama ini dikenal sebagai minuman tradisional, diolah menjadi kreasi modern yang ramah lingkungan dan memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan, khususnya generasi muda dan pasar internasional ” ungkap Dr. Agustinus Walansendow .

Ia menambahkan, Pendekatan ini mempertemukan tradisi dengan tren gaya hidup kontemporer, sehingga membuka peluang pemasaran yang lebih luas sekaligus menjaga identitas budaya lokal. Lebih jauh, program ini selaras dengan konsep ekonomi hijau karena mendorong pemanfaatan bahan baku alami yang tersedia secara lokal, mengurangi ketergantungan pada produk impor, serta memperkuat rantai pasok berbasis komunitas. Dengan demikian, Cocktail Mixology saguer bukan sekadar kreasi kuliner, tetapi juga strategi pemberdayaan ekonomi berkelanjutan yang berpotensi mengangkat citra Desa Darunu sebagai destinasi wisata kuliner unik di Sulawesi Utara.
Pembukaan Kegiatan PKM Diikuti bersama tim dosen pengabdi, Ketua Dr Agustinus Walansendow, SE, MM,MSi dan Anggota:
Jemmy Pangemanan, SE, MSi, Mex Usmeni Pesik, SE, MM, Prof. Dr Bet El Silisna Lagarense, MMTour POLITEKNIK NEGERI MANADO, peserta UMKM, dan Hukum Tua Desa Wisata Darunu.

Sementara Ketua Tim Pengabdi dari Politeknik Negeri Manado, Dr. Agus Walansendow, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Kami tidak hanya ingin memperkenalkan teknik mixology kepada para pelaku UMKM, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan berdaya saing yang berakar pada potensi lokal. Saguer adalah warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikemas dengan pendekatan kreatif dan berkelanjutan. Harapan kami, pelatihan ini menjadi pintu masuk bagi UMKM Desa Darunu untuk menembus pasar wisata kuliner, baik di tingkat nasional maupun global,” ujar anggota tim Pengabdi Bapak Mex Pesik.

Peserta diajarkan teknik dasar mixology untuk mengolah saguer menjadi minuman kreatif, baik alkohol maupun non-alkohol (mocktail). Pelatihan juga mencakup aspek higienitas, estetika penyajian, branding produk, dan strategi pemasaran.
Ketua Tim Pengabdi menegaskan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kualitas rasa, tetapi juga oleh standar kebersihan, daya tarik visual, serta kekuatan merek dalam membangun kepercayaan konsumen. Dengan menguasai teknik mixology, para pelaku UMKM memiliki peluang untuk menciptakan diferensiasi produk yang mampu bersaing dengan minuman modern di pasar wisata kuliner. Sementara itu, aspek branding dan pemasaran digital memberikan bekal agar produk saguer tidak hanya dinikmati secara lokal, tetapi juga mampu menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk wisatawan mancanegara. Lebih jauh, kombinasi antara inovasi rasa, higienitas, dan strategi pemasaran menjadikan pelatihan ini sebagai fondasi penting untuk membangun ekosistem kuliner berbasis saguer yang berkelanjutan. Hal ini sekaligus menempatkan Desa Wisata Darunu sebagai pionir dalam mengangkat potensi minuman tradisional ke level internasional, tanpa meninggalkan nilai kearifan lokal. Dari perspektif keberlanjutan, program ini diproyeksikan mampu menciptakan efek berganda bagi masyarakat. Pertama, memperluas lapangan kerja baru di sektor kuliner kreatif, terutama bagi generasi muda desa. Kedua, mendorong munculnya usaha-usaha turunan seperti penyediaan bahan baku lokal, kemasan ramah lingkungan, hingga layanan pariwisata berbasis pengalaman (experience tourism). Ketiga, memperkuat citra Desa Wisata Darunu sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga inovasi kuliner hijau yang mendukung agenda pembangunan pariwisata berkelanjutan di Sulawesi Utara.
Peserta PkM Desa Darunu sedang mengikuti praktik meracik saguer dengan instruktur. Program ini mendapat dukungan dari pemerintah desa dengan harapan mendorong UMKM naik kelas dan memperkuat Desa Darunu sebagai destinasi wisata kuliner hijau. Analisisnya, dukungan pemerintah desa menjadi faktor kunci dalam memastikan keberlanjutan program. Sinergi antara akademisi, pelaku UMKM, dan pemerintah desa menciptakan ekosistem kolaboratif yang mempercepat proses transformasi ekonomi lokal. Dengan adanya fasilitasi regulasi, promosi, dan kebijakan desa yang pro-UMKM, pelaku usaha memiliki ruang lebih luas untuk berkembang, tidak hanya dari sisi keterampilan teknis tetapi juga dari akses pasar dan jejaring usaha. Lebih jauh, dukungan ini juga menegaskan komitmen desa untuk mengarahkan pengembangan pariwisata ke jalur hijau yang berwawasan lingkungan dan berbasis kearifan lokal.
Dengan demikian, Desa Darunu bukan hanya menjadi lokasi pelatihan, tetapi juga role model desa wisata kuliner hijau yang mampu mengintegrasikan inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu paket pembangunan pariwisata terpadu.
Tim PkM juga menyerahkan starter kit bartender dan modul inovasi kuliner berbasis saguer untuk UMKM. Analisisnya, langkah ini bukan hanya simbolis, tetapi strategis dalam memastikan keberlanjutan hasil pelatihan. Starter kit bartender memberikan akses langsung bagi pelaku UMKM untuk segera mempraktikkan keterampilan mixology yang baru mereka pelajari tanpa harus terbebani modal awal yang besar. Hal ini mempercepat proses adaptasi dan penerapan ilmu ke dalam usaha nyata. Sementara itu, modul inovasi kuliner berbasis saguer berfungsi sebagai panduan praktis yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
Modul ini menjadi knowledge transfer tool yang menjaga konsistensi kualitas, memudahkan replikasi inovasi di berbagai usaha, serta membuka peluang pengembangan produk turunan berbasis saguer. Dengan demikian, UMKM tidak hanya mendapatkan keterampilan praktis, tetapi juga fondasi pengetahuan yang memperkuat kapasitas usaha dalam jangka panjang.
Lebih jauh, kombinasi antara dukungan alat dan modul ini menegaskan bahwa program PkM tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga memastikan adanya follow-up berupa pendampingan dan keberlanjutan. Hal ini penting agar inovasi saguer benar-benar dapat dikembangkan menjadi produk unggulan desa wisata, yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat posisi Desa Darunu dalam peta destinasi kuliner hijau Sulawesi Utara.
Penyerahan bahan dan bartender kepada perwakilan Pokdarwis Dengan konsep ini, saguer diposisikan tidak hanya sebagai minuman tradisional tetapi juga minuman modern yang bisa diterima wisatawan lokal maupun mancanegara. Analisisnya, reposisi saguer dalam konteks kuliner modern membuka peluang besar untuk meningkatkan nilai ekonominya. Dari yang sebelumnya hanya dikonsumsi secara sederhana dalam lingkup lokal, kini saguer memiliki identitas baru sebagai produk inovatif dengan citra yang lebih universal.
Transformasi ini penting karena mampu menjembatani preferensi wisatawan lintas generasi dan budaya: tradisionalitasnya memikat wisatawan yang mencari keaslian (authenticity), sementara sentuhan modern dalam bentuk cocktail dan mocktail menjadikannya relevan dengan gaya hidup global.
Lebih jauh, strategi ini juga memperkuat daya tarik pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism). Wisatawan tidak hanya menikmati saguer sebagai minuman, tetapi juga terlibat dalam cerita budaya, inovasi kuliner, dan nilai keberlanjutan yang melekat di baliknya.
Dengan demikian, saguer berpotensi menjadi ikon baru kuliner hijau Sulawesi Utara yang dapat bersaing di panggung internasional. ( red )













