TEVRI- TV MANADO, Sulawesi Utara – Semangat belajar ternyata tidak mengenal usia. Kisah inspiratif datang dari Eldy Jenny Wullur, S.Tr.Par, seorang perempuan berusia 73 tahun yang berhasil menuntaskan pendidikan tinggi dan lulus ujian skripsi dengan predikat Cum Laude di Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata (STIP) Manado.

Lebih membanggakan lagi, beliau menyelesaikan masa studi hanya dalam 3 tahun 4 bulan dengan capaian akademik luar biasa dan memperoleh nilai tertinggi 98,96 (A) pada ujian skripsinya.

Prestasi ini menjadi perbincangan hangat di kalangan akademisi, pemerhati budaya, hingga masyarakat Sulawesi Utara. Di usia yang tidak lagi muda, Eldy Jenny Wullur membuktikan bahwa tekad, kerja keras, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan mampu mengalahkan segala keterbatasan usia.

Skripsi yang mengantarkannya meraih gelar Sarjana Sains Terapan Pariwisata berjudul “Analisis Fonem, Distribusi Alofon, Struktur Silabel, dan Tata Bahasa Tonsea: Kajian Linguistik Deskriptif sebagai Landasan Pelestarian Bahasa Daerah dan Pengembangan Kompetensi Komunikasi dalam Industri Wisata Budaya.” Penelitian tersebut mengangkat bahasa Tonsea, salah satu bahasa daerah Minahasa yang saat ini menghadapi tantangan serius akibat menurunnya jumlah penutur aktif dan lemahnya pewarisan bahasa kepada generasi muda.
Dalam penelitiannya, Eldy Jenny Wullur berhasil mendokumentasikan sistem fonem, distribusi alofon, struktur silabel, hingga aspek tata bahasa Tonsea. Ia juga menawarkan model pengembangan yang menghubungkan pelestarian bahasa daerah dengan industri wisata budaya. Gagasan tersebut dinilai memiliki nilai strategis karena mampu menjadikan bahasa daerah sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya yang autentik sekaligus sebagai sarana pelestarian identitas lokal.
Keberhasilan ini bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Selama puluhan tahun, Eldy Jenny Wullur dikenal sebagai sosok yang aktif dalam pelestarian adat dan budaya Minahasa. Dalam perjalanan organisasinya, ia mengemban berbagai posisi penting, termasuk sebagai Sekretaris Umum Majelis Adat Budaya Minahasa (MABM) Sulawesi Utara serta Sekretaris Umum Pakasaan Tonsea. Dedikasinya terhadap budaya lokal telah diwujudkan melalui berbagai karya, mulai dari penyusunan liturgi dalam bahasa Tonsea, penerjemahan film Yesus ke bahasa Tonsea, penerjemahan lagu-lagu Tonsea, hingga keterlibatannya dalam penerjemahan kitab-kitab Alkitab ke dalam bahasa daerah tersebut.
Tidak mengherankan jika penelitian yang dipilihnya berakar kuat pada kecintaan terhadap bahasa dan budaya leluhur. Baginya, bahasa Tonsea bukan sekadar alat komunikasi, melainkan warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam proses penyusunan skripsi, Eldy Jenny Wullur mendapatkan pendampingan akademik dari dua dosen pembimbing, yaitu Dr. Agus Walansendow, SE, MM, M.Si dan Sony Wijanarko, S.ST.Par., MM. Keduanya memberikan arahan dan bimbingan sehingga penelitian tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan menghasilkan karya ilmiah yang mendapat apresiasi tinggi dari tim penguji.
Keberhasilan Eldy Jenny Wullur menjadi bukti nyata bahwa pendidikan sepanjang hayat bukan sekadar slogan. Di saat banyak orang menganggap usia lanjut sebagai masa untuk beristirahat, ia justru menunjukkan bahwa belajar dapat dilakukan kapan saja selama masih memiliki kemauan dan semangat.
Kisahnya kini menjadi inspirasi bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda. Pesan yang disampaikan melalui perjalanan akademiknya sangat jelas: jangan pernah berhenti belajar, jangan takut memulai, dan jangan jadikan usia sebagai alasan untuk menyerah pada impian.
Prestasi Eldy Jenny Wullur bukan hanya kemenangan pribadi, melainkan juga kemenangan bagi dunia pendidikan, pelestarian budaya, dan masyarakat Minahasa. Dari ruang sidang skripsi di STIP Manado, lahirlah sebuah teladan bahwa semangat belajar, kecintaan terhadap budaya, dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan beriringan hingga menghasilkan karya yang membanggakan.
Selamat kepada Ibu Eldy Jenny Wullur, S.Tr.Par. Sosok inspiratif yang membuktikan bahwa usia 73 tahun bukanlah batas untuk meraih prestasi, melainkan kesempatan untuk meninggalkan warisan ilmu dan budaya bagi generasi mendatang. ( Red )













