BANGGAI LAUT, TEVRI-TV.com — (8 September 2026). Persoalan kemampuan numerasi dan matematika peserta didik di Kabupaten Banggai Laut tidak cukup dijawab dengan mengganti metode pembelajaran. Guru juga dituntut mengubah cara pandang terhadap proses belajar.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Diseminasi Pelatihan Matematika Gembira untuk Guru Fase A yang digelar Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Banggai Laut, Selasa, 8 September 2026 di gedung SDN 3 Bobolon, Lampa Kecamatan Banggai.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 8–9 September 2026, tersebut diikuti 126 peserta. Para guru didorong untuk tidak sekadar mengenal metode baru, tetapi mampu menciptakan pembelajaran matematika yang lebih menyenangkan, relevan dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik pada fase awal pendidikan.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri istri Wakil Bupati Banggai Laut, Sri Restu Ningsih, S.Pd., M.Pd.Gr., para kepala seksi serta sejumlah kepala sekolah.
Bukan Sekadar Pelatihan, Guru Diminta Mengubah Mindset
Kepala Bidang GTK Disdikpora Banggai Laut, Siti Fatima Yabi, S.Sos., menilai peningkatan kompetensi guru tidak boleh berhenti sebagai agenda formal yang selesai setelah kegiatan berakhir.
Menurutnya, setiap kegiatan pelatihan harus menghasilkan pengetahuan yang benar-benar dapat dibawa ke ruang kelas dan memberikan dampak terhadap kualitas pembelajaran.
Ia juga mengapresiasi antusiasme para guru yang tetap mengikuti kegiatan di tengah berbagai kondisi dan keterbatasan.
“Mendapatkan ilmu seharusnya tidak melihat siapa yang menyampaikan, tetapi lebih penting apa yang disampaikan. Jangan sampai kita menilai sebuah ilmu hanya berdasarkan siapa narasumbernya. Yang terpenting adalah isi, manfaat, dan bagaimana ilmu tersebut dapat kita terapkan dalam pekerjaan kita,” ujar Fatima.
Fatima mengakui, keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah harus melakukan penyesuaian dalam pelaksanaan berbagai kegiatan peningkatan kompetensi.
Namun, efisiensi anggaran menurutnya tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pengembangan kapasitas tenaga pendidik.
Sebaliknya, diperlukan kreativitas untuk mencari pola pelaksanaan yang tetap memungkinkan guru mendapatkan ruang belajar dan berbagi pengetahuan.
“Kita mengambil keputusan dengan cepat dan menyesuaikan pelaksanaan kegiatan ini. Narasumber yang hadir hari ini juga merupakan bagian dari guru-guru kita sendiri yang memiliki kompetensi dan pengalaman untuk dibagikan kepada rekan-rekan yang lain,” katanya.
Matematika Tak Bisa Terus Diajarkan dengan Pola Lama
Mewakili Kepala Disdikpora Banggai Laut, Amirtuah, S.Pd., Pengawas TK-SD membuka kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, ia menyoroti kemampuan literasi, berhitung dan matematika peserta didik yang masih menjadi pekerjaan rumah berdasarkan hasil asesmen tahun 2026.
Kondisi itu, kata dia, harus menjadi bahan evaluasi bersama.
Guru tidak cukup hanya dibekali beragam metode pembelajaran. Lebih penting dari itu adalah keberanian untuk mengubah pola pikir dalam memandang peserta didik dan proses pembelajaran.
“Walaupun berbagai metode pembelajaran sudah kita sampaikan dan pelajari, apabila mindset atau pola pikir kita sebagai guru tidak berubah dan kita masih menggunakan pola-pola pembelajaran lama, yakin dan percaya bahwa metode tersebut tidak akan memberikan dampak yang optimal bagi peserta didik,” tegasnya.
Ia menilai pembelajaran matematika, khususnya pada Fase A, harus mampu menghilangkan kesan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan menakutkan.
Anak-anak pada usia awal sekolah membutuhkan pengalaman belajar yang konkret, sederhana, menyenangkan dan dekat dengan kehidupan mereka.
Dalam konteks pembelajaran mendalam, guru juga dituntut mampu memahami kebutuhan peserta didik, bukan sekadar mengikuti tren metode pembelajaran yang sedang populer.
“Jangan hanya mengikuti apa yang sedang populer atau apa yang kita lihat di YouTube. Kita harus mampu memilih dan memperlihatkan kepada peserta didik hal-hal yang benar-benar relevan, bermanfaat, dan sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.
Menurutnya, ruang kelas merupakan tempat pertama anak membangun kebiasaan belajar. Karena itu, sikap dan praktik yang ditampilkan guru akan ikut membentuk cara peserta didik memandang proses belajar.
“Pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar menerapkan metode baru, tetapi mengubah cara berpikir dan cara kita memandang pembelajaran,” tegasnya.
126 Peserta, 15 Panitia dan 25 Undangan
Ketua panitia pelaksana, Syarifuddin Maudara, S.Pd.SD.Gr., yang juga Ketua Forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah Dasar Kabupaten (K3S) Banggai Laut, menyampaikan kegiatan tersebut melibatkan total 166 orang.
Rinciannya, 126 peserta, 15 orang panitia dan 25 orang undangan dari berbagai satuan pendidikan.
Ia berharap seluruh peserta tidak hanya mengikuti kegiatan sampai selesai, tetapi mampu membawa pengetahuan yang diperoleh untuk diterapkan dan dikembangkan di sekolah masing-masing.
Menariknya, kegiatan tersebut disebut dilaksanakan dengan dukungan donasi dari peserta sendiri.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta dan dapat ditindaklanjuti di satuan pendidikan masing-masing,” kata Syarifuddin.
Pada akhirnya, Matematika Gembira bukan sekadar soal angka, rumus dan hitungan.
Ada persoalan yang lebih mendasar yang sedang didorong untuk berubah: cara guru memandang pembelajaran.
Sebab, sebaik apa pun metode yang digunakan, jika pola pikir guru masih terjebak pada cara lama, perubahan di ruang kelas akan sulit dirasakan peserta didik.
Sebaliknya, ketika guru mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan relevan, matematika diharapkan tidak lagi menjadi pelajaran yang ditakuti, tetapi menjadi pengalaman belajar yang dekat, mudah dipahami dan menggembirakan sejak Fase A.
(FTT)













