BANGGAI LAUT, TEVRI-TV.com — (29/10/2026). Krisis air bersih di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banggai, Kabupaten Banggai Laut, kembali menjadi sorotan. Berdasarkan aduan masyarakat yang diterima TEVRI-TV.com pada Tanggal 28 Oktober 2026, persoalan ketersediaan air bersih di rumah sakit tersebut kembali terjadi. Bahkan, keluarga pasien dilaporkan harus mencari air sendiri untuk memenuhi kebutuhan selama mendampingi anggota keluarga yang menjalani perawatan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas penanganan krisis air yang sebelumnya telah menjadi perhatian sejumlah media pada Agustus 2026.
Lantas, mengapa persoalan yang sebelumnya telah menjadi sorotan publik kembali terjadi? Di mana efektivitas solusi yang telah disiapkan pemerintah daerah?
Persoalan air bersih di RSUD Banggai Laut bukanlah isu yang baru muncul pada Oktober 2026.
Pada 10 Agustus 2026, TEVRI-TV.com menerbitkan pemberitaan berjudul “Air RSUD Banggai Tak Mengalir, Pelayanan Pasien Dipertaruhkan: Ke Mana Peran PDAM Paisu Moute?”
Sorotan itu menegaskan bahwa gangguan air di fasilitas pelayanan kesehatan tidak boleh dipandang sebagai persoalan teknis biasa. Dibutuhkan respons cepat, penjelasan terbuka, dan langkah konkret agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.
Pada hari yang sama, TEVRI-TV.com juga menerbitkan artikel berjudul “Air RSUD Banggai Tak Mengalir, DPRD Banggai Laut Jangan Hanya Duduk di Ruang Paripurna.”
Melalui pemberitaan tersebut, fungsi pengawasan DPRD Kabupaten Banggai Laut turut dipertanyakan. DPRD didorong untuk tidak sekadar menjalankan agenda rapat formal, tetapi juga memastikan persoalan pelayanan publik ditangani melalui pengawasan nyata, termasuk meminta penjelasan pihak rumah sakit, Perumdam, dan pemerintah daerah.
Selanjutnya, pada 17 Agustus 2026, Berantastipikornews.co.id mengangkat judul “KRISIS AIR RSUD BANGGAI LAUT, KEMARAU JADI BUMPER, KELALAIAN SISTEMIK BUMD DAN PEMDA DITELANJANGI.”
Pemberitaan tersebut mempertanyakan kesiapan pengelolaan air bersih dalam menghadapi kemarau berkepanjangan. Redaksi media itu juga menyoroti langkah penanganan darurat, termasuk distribusi air menggunakan mobil tangki, serta mendorong adanya solusi jangka panjang.
Rangkaian pemberitaan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan air di RSUD Banggai Laut telah menjadi perhatian publik sejak Agustus 2026.
Pada 18 Agustus 2026, pemberitaan mengenai penanganan krisis air mulai menyoroti langkah pemerintah daerah.
KabarMola.com menerbitkan artikel berjudul “Atasi Kelangkaan Air Bersih di RSUD Banggai, Bupati Sofyan Kaepa Tambah Kapasitas Penampungan hingga 18.800 Liter.”
Judul tersebut menyoroti langkah Bupati Banggai Laut, Sofyan Kaepa, dalam penanganan kelangkaan air melalui penambahan kapasitas penampungan hingga 18.800 liter.
Pada tanggal yang sama, CardinalNews.co.id mengangkat pemberitaan berjudul “PEMKAB BANGGAI LAUT SIAPKAN JARINGAN AIR BERSIH BARU UNTUK UPT RSUD BANGGAI.”
Pemberitaan itu menempatkan penyiapan jaringan air bersih baru sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menangani persoalan pasokan air di rumah sakit.
Langkah tersebut patut menjadi perhatian Serta Apresiasi penuh untuk Bapak Bupati Banggai Laut SOFYAN KAEPA yang tanggap dan turun langsung menyelesaikan masalah air di RSUD Banggai, Kabupaten Banggai Laut, Sebagai Bentuk kebutuhan mendasar yang harus dijamin melalui sistem pelayanan.
Kini, pada Oktober 2026, TEVRI-TV.com kembali menerima aduan masyarakat mengenai krisis air di RSUD Banggai Laut.
Dalam aduan tersebut, keluarga pasien dilaporkan harus mencari air sendiri untuk memenuhi kebutuhan selama berada di rumah sakit. Informasi ini menjadi perhatian serius karena memperlihatkan adanya kemungkinan kesenjangan antara langkah penanganan yang diberitakan pada Agustus dan kondisi yang kembali dikeluhkan masyarakat pada Oktober.
Redaksi TEVRI-TV.com memahami bahwa Kabupaten Banggai Laut menghadapi tantangan musim kemarau berkepanjangan. Penurunan debit mata air, berkurangnya ketersediaan air baku, dan kekeringan merupakan kondisi yang dapat memberikan tekanan besar terhadap pelayanan air bersih. Namun, memahami faktor alam bukan berarti membenarkan apabila kebutuhan air di fasilitas pelayanan kesehatan tidak terpenuhi tanpa adanya penanganan yang memadai.
Kemarau dapat menjadi faktor penyebab berkurangnya sumber air. Akan tetapi, kondisi tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa perencanaan, mitigasi, penyediaan cadangan, dan koordinasi antarlembaga harus dipersiapkan secara serius.
Apakah persediaan air cadangan mencukupi? Apakah distribusi darurat telah disiapkan? Apakah kebutuhan RSUD sudah dikoordinasikan secara khusus dengan Perumdam Paisu Moute? Dan apakah pemerintah daerah telah memiliki mekanisme respons cepat untuk memastikan pelayanan kesehatan tidak terganggu?
Sebab, ketika keluarga pasien harus mencari air sendiri, kondisi itu patut menjadi alarm bagi semua pihak. Kebutuhan dasar yang semestinya didukung oleh sistem pelayanan rumah sakit jangan sampai menjadi beban tambahan bagi masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.
Pemerintah Kabupaten Banggai Laut memiliki peran penting dalam memastikan pelayanan publik berjalan secara layak dan berkesinambungan sesuai kewenangannya.
Karena itu, pemerintah daerah perlu memberikan penjelasan mengenai tindak lanjut dari penanganan krisis air yang telah menjadi perhatian publik pada Agustus 2026.
Redaksi TEVRI-TV.com tidak bermaksud mengabaikan tantangan teknis yang mungkin dihadapi pemerintah daerah. Namun, keterbatasan sumber air dan kondisi alam seharusnya dihadapi melalui perencanaan yang terukur, bukan hanya dengan penanganan setelah keluhan masyarakat muncul. Jangan sampai setiap pihak memiliki penjelasan mengenai penyebab gangguan, tetapi masyarakat tetap menghadapi persoalan yang sama tanpa mengetahui kapan dan bagaimana masalah tersebut akan diselesaikan.
DPRD BANGGAI LAUT JANGAN HANYA MENUNGGU PERSOALAN MENJADI POLEMIK
DPRD Kabupaten Banggai Laut juga perlu menunjukkan fungsi pengawasan secara nyata. Krisis air di RSUD bukan sekadar keluhan mengenai distribusi air. Persoalan ini berkaitan dengan pelayanan publik,
Sebagai Wakil Rakyat harus Turun Langsung Menyelesaikan Masalah Krisis Air di RSUD Banggai, peninjauan lapangan, mengevaluasi tindak lanjut pembangunan jaringan air, serta meminta laporan mengenai kesiapan pasokan air selama kemarau. Jika diperlukan, DPRD dapat mendorong pembahasan bersama untuk merumuskan langkah penyelesaian yang terukur, termasuk memastikan adanya rencana kontingensi ketika sumber air baku mengalami penurunan debit. jangan sampai menjadi beban tambahan bagi masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit. Sebagai Wakilnya Rakyat Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar pernyataan keprihatinan, melainkan pengawasan yang menghasilkan tindak lanjut, jadwal penyelesaian, dan kejelasan tanggung jawab,
RSUD BANGGAI JUGA PERLU MEMASTIKAN KEBUTUHAN DARURAT TERPENUHI
Dalam situasi pasokan air terganggu, manajemen RSUD Banggai perlu menjelaskan langkah yang diambil untuk menjamin kebutuhan dasar pasien, Langkah tersebut dapat meliputi pemeriksaan persediaan air, pemantauan kebutuhan harian, pengaturan penggunaan air berdasarkan tingkat urgensi, serta koordinasi untuk mendapatkan pasokan alternatif yang aman. Rumah sakit juga perlu memastikan bahwa fasilitas sanitasi dan kebutuhan pelayanan medis tidak dibiarkan bergantung pada ketidakpastian distribusi air.
Jika persediaan air menipis, respons darurat harus segera dijalankan. Tanggung jawab manajemen RSUD perlu dilihat secara proporsional sesuai kewenangan dan sumber daya yang tersedia. Namun, koordinasi yang cepat dan transparan merupakan bagian penting dari upaya melindungi pasien selama gangguan berlangsung. Karena itu, rumah sakit perlu memiliki sistem pengamanan pasokan yang sesuai dengan kebutuhan operasionalnya.
Pemerintah daerah dan Perumdam perlu memastikan sumber air, kapasitas distribusi, dan sistem cadangan dapat bekerja secara terpadu. Apabila terdapat keterbatasan sumber air baku, diperlukan langkah mitigasi yang disusun berdasarkan data teknis dan kebutuhan aktual.
Penambahan tangki penampungan dapat menjadi solusi penyangga, tetapi bukan jawaban tunggal jika sumber air tidak tersedia untuk mengisi tangki tersebut. Demikian pula, pembangunan jaringan baru tidak akan memberikan hasil optimal apabila sumber airnya tidak mencukupi atau pengoperasiannya tidak didukung pemeliharaan yang memadai.
perlu disusun rencana penanganan krisis air yang berkelanjutan. Rencana tersebut harus didukung data kebutuhan air harian, kapasitas sumber, sistem penampungan, sumber alternatif yang layak, dan prosedur distribusi darurat. Langkah tersebut perlu dilaksanakan berdasarkan kewenangan masing-masing instansi dan kondisi teknis yang terverifikasi.
JANGAN BIARKAN KRISIS YANG SAMA TERUS BERULANG
Krisis air bersih di RSUD Banggai Laut seharusnya menjadi momentum untuk membenahi sistem pelayanan, bukan sekadar persoalan yang muncul ketika debit air menurun lalu mereda setelah bantuan darurat diberikan.
Pemerintah Kabupaten Banggai Laut, DPRD, Perumdam Paisu Moute, dan manajemen RSUD perlu duduk bersama untuk memastikan persoalan ini tidak terus berulang tanpa penyelesaian yang terukur. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa air tersedia ketika rumah sakit membutuhkannya. Pasien membutuhkan pelayanan yang layak. Dan pemerintah daerah perlu menunjukkan bahwa persoalan mendasar seperti air bersih ditangani melalui kerja nyata, perencanaan yang matang, dan tanggung jawab yang jelas.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa banyak pernyataan yang disampaikan atau seberapa sering pejabat turun ke lapangan, melainkan apakah persoalan yang sama berhasil dicegah agar tidak kembali membebani masyarakat. Air bersih di RSUD Banggai Laut bukan kemewahan. Itu kebutuhan mendasar yang harus dijamin melalui sistem pelayanan yang andal dan berkelanjutan.
Goresan Pena : Wendy Wardana
KRISIS AIR RSUD BANGGAI LAUT KEMBALI TERULANG: KELUARGA PASIEN HARUS CARI AIR SENDIRI, DI MANA SOLUSI PERMANEN PEMDA?












