‎Masyarakat Minahasa Apresiasi Ketua DPD RI: Falsafah ‘Mapalus’ Masuk dalam Pidato Kenegaraan Resmi Tingkat Nasional

TEVRI -TV, Jakarta – Langkah bersejarah ditunjukkan dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI tahun 2026. Falsafah luhur asal tanah Minahasa, ‘Mapalus’, secara resmi diangkat dan disebut langsung oleh Ketua DPD RI dalam pidato kenegaraannya.


‎Hal ini memicu gelombang respons positif dan rasa bangga yang mendalam dari berbagai lapisan masyarakat adat serta komunitas Minahasa.


‎Menyikapi momentum berharga ini, budayawan Prof. Dr. Kamajaya Al Katuuk bersama segenap elemen masyarakat Minahasa menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ketua DPD RI.

‎ Pengakuan ini dinilai sebagai bentuk penghormatan nyata terhadap kearifan lokal daerah yang mampu berkontribusi pada pembangunan karakter bangsa di tingkat nasional.


‎”Dalam pidato kenegaraan tersebut, Ketua DPD RI menegaskan nilai penting dari falsafah ini: Di tanah Minahasa, falsafah Mapalus hadir bukan sebatas tradisi gotong royong, melainkan sebuah etika kerja komunal yang menyatukan seluruh daya, waktu, dan pikiran demi kemaslahatan bersama.


‎Nilai ke-mapalus-an ini membuktikan bahwa kemandirian sejati lahir dari kemitraan yang setara dan kesetiakawanan yang melampaui sekat sosial. Dari Sabang sampai Merauke, denyut kearifan seperti inilah yang menghidupi keutuhan Republik Indonesia,” kata Prof. Kamajaya.


‎Lebih lanjut Prof. Kamajaya Al Katuuk menjelasakan, falsafah Mapalus yang didefinisikan sebagai etika kerja komunal yang melampaui sekat sosial demi kemitraan yang setara dinilai sangat relevan dengan tantangan kebangsaan saat ini.


‎Melalui momentum ini, seluruh elemen kemasyarakatan diajak untuk kembali menghidupkan dan mendiskusikan nilai ke-mapalus-an tersebut di ruang-ruang publik. Respons positif yang meluas ini membuktikan bahwa daerah memiliki modal sosial-kultural yang kuat untuk memperkokoh ketahanan nasional.


‎Apresiasi kolektif ini diharapkan dapat menginspirasi daerah-daerah lain di Nusantara untuk terus menggali, merawat, dan menggaungkan kearifan lokal masing-masing. Sebab, keutuhan Republik Indonesia sesungguhnya dihidupi oleh denyut-denyut kearifan lokal yang luhur dari Sabang sampai Merauke. ( Red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *